Kamis, 08 Agustus 2013

Metode Kontrasepsi suhu basal tubuh



a. Cara kerja :
Telah diketahui bahwa penurunan suhu basal sebanyak ½ sampai 1 derajat celcius pada hari ke 12 sampai ke 13 menstruasi di mana ovulasi terjadi pada hari ke 14 setelah menstruasi suhu naik lebih dari suhu basal sehingga siklus menstruasi yang disertai ovulasi terdapat temperatur bifasik. (Manuaba,2008)
Pantang berkala dengan sistem pengukuran suhu basal memerlukan pengetahuan dan metode pengukuran suhu basal  memerlukan pengetahuan dan metode pengukuran yang akurat, sehingga dapat bermanfaat. Kegagalan sistem suhu basal sekitar 10% sampai 20%. Kelemahan sistem pantang berkala adalah pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat, hanya dapat digunakan oleh mereka yang terdidik dan hanya berguna pada siklus menstruasi 20 sampai 30 hari. (Manuaba, 2008)
Peninggian suhu badan basal 0,2-0,5 drajat celcius pada waktu ovulasi. Peninggian suhu badan basal mulai 1-2 hari setelah ovulasi dan disebabkan oleh peninggian kadar hormon progesteron. (Hanafi Harianto,2004)
Pengukuran suhu basal badan diselenggarakan setiap hari sesudah haid berakhir sampai mulainya haid berikutnya. Ini dilakukan sewaktu bangun pagi sebelum menjalankan kegiatan apa–apa, dengan memasukkan thermometer dalam rectum atau dalam mulut di bawah lidah selama 5 menit. (Sarwono, 2009)
pengukuran dilakukan secara : oral (3 menit), rektal (1 menit) ini secara terbaik, vaginal. (Hanafi Harianto,2004)
Hormone progesterone yang disekresi oleh korpus luteum setelah ovulasi, bersifat termogenik atau memproduksi panas. Karena itu dapat menaikkan suhu tubuh 0,050C sampai 0,20C dan mempertahankan pada tingkat ini sampai saat haid berikutnya. Peningkatan suhu tubuh sebagai peningkatan termal dan ini merupakan dasar dari metode suhu tubuh dasar ( STB) (Saifuddin.dkk, 2006).
b. Petunjuk penggunaan Metode Suhu Tubuh Bassal
1)      Ukur suhu ibu pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum bangkit dari tempat tidur) dam catat suhu ibu pada kartu yang disediakan oleh instruktur Keluarga Berencana Alamiah (KBA) ibu.
2)      Pakai catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid ibu untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal, rendah” (misalnya, catatan suhu harian pada pola tertentu tanpa suatu kondisi yang luar biasa). Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
3)      Tarik garis pada 0,05o – 0,1o C di atas suhu tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Ini dinamakan garis pelindung (cover line) atau garis suhu.
4)      Masa tak subur mulai pada sore hari setelah hari ketiga berturut-turut suhu tubuh berada di atas garis pelindung tersebut (Aturan Perubahan Suhu). (Sarwono, 2006)
Pantang sanggama mulai dari awal siklus haid sampai sore hari ketiga berturut – turut setelah suhu berada di atas garis pelindung (cover line). Masa pantang pada Aturan Perubahan Suhu lebih panjang dari pemakaian Metode Ovulasi Billings (MOB). (Sarwono, 2006)
Catatan:
1)      Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung (cover line) selama perhitungan 3 hari, ini mungkin tanda bahwa ovulasi belum terjadi. Untuk menghindari kehamilan tunggu sampai 3 hari berturut-turut suhu tercatat di atas garis pelindung sebelum memulai senggama.
2)      Ketika mulai masa tak subur, tidak perlu untuk mencatat suhu basal ibu. Ibu dapat berhenti mencatat sampai haid berikut mulai dan bersenggama sampai hari pertama haid berikutnya. (Sarwono, 2006)
a.       Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu basal
Dengan menggunakan suhu basal badan, kontrasepsi dengan jalan pantang berkala dapat ditingkatkan efektivitasnya. Akan tetapi, harus diingat bahwa beberapa factor dapat menyebabkan kenaikan suhu basal badan tanpa terjadinya ovulasi, misalnya infeksi, kurang tidur, minum alcohol, dan sebagainya. (Sarwono, 2009)
1).       Influenza atau infeksi traktusrespiratorius lain.
2).      Infeksi atau penyakit-penyakit lain yang meninggikan suhu badan
3).       Inflamasi lokal lidah,mulut atau daerah anus.
4).      Faktor-faktor situasional seperti mimpi buruk, mengganti popok bayi pukul 6 pagi.
5).       Jam tidur yang ireguler
6).       Pemakaian minuman panas atau dingin sebelum pengambilan suhu badan basal.
7).      Pemakaian selimut elektris.
8).      Kegagalan membaca termometer denga tepat atau baik. (hanafi harianto, 2004)
d. Macam-macam peninggian suhu badan basal
1).       Peninggian suhu mendadak. Ini yang paling sering terjadi.
2).      Peninggian suhu yang  perlahan-lahan (gradual).
3).       Peninggian suhu yang bertingkat, umunnya didahului penurunan suhu yang cukup tajam.
4).      Peninggian suhu seperti gigi gergaji. (hanafi harianto,2004)
           Catatan
a.       Ada beberapa kasus, kadang suhu badan basal sama sekali tidak meninggi  selama ovulasi, atau kadang sudah meninggi, pra-ovulasi.
b.      Demikian pula pada siklus haid yang An-ovulatoir suhu badan basal tidak meninggi, dan ini ditemukan pada:
- gadis muda
- klimakterium segera post partum  atau post abortus
- laktasi
c. Bila tidak terjadi vertilisasi, korpus luteum akan berhenti bekerja, produksi hormon progesteron menurun, dan akhirnya suhu badan basal menurun lagi.
d. Suhu badan post ovulasi adalah lebih tinggi dari pada suhu badan pra ovulasi, meskipun tidak terjadi ovulasi. (hanafi harianto,2004)

0 komentar:

Poskan Komentar